Drag

By Ketut Desy

‘I haven’t eaten if it was not rice’ is an expression attached to Indonesian people. In this country, rice production is abundant and a variety of rice foods are very easy to find. Rice is currently a staple food consumed for daily carbohydrate intake.

In the theme of Cooking Science, Eco Warriors learned how to create a variety of different rice dishes. Besides cooking these rice dishes, they also looked for information on the internet about its history, meaning, and use, as well as the steps to make a variety of dishes. This way, their learning became very comprehensive.

Under a shady durian tree, a small group of Eco Warriors shaped rice into yellow cones. The yellow cone-shaped rice is colored with yellow natural dye from turmeric.

“The cone shape of this yellow cone-shaped rice symbolizes gratitude to God and the yellow color symbolizes gold, which symbolizes prosperity. A yellow cone-shaped rice is often used for various celebrations such as birthdays, weddings, thanksgiving for happy events, and others,” explained a student in charge of looking for information about the yellow cone-shaped rice on his tablet.

In a corner of Begawan Foundation Learning Centre, a small group of Eco Warriors worked together to make various Indonesian spices and herbs. They made nasi liwet (savory rice served with choko) and nasi uduk (steamed rice with coconut milk), a famous Javanese rice dish, creating appetizing dishes. The savory taste is the mainstay of these two rice dishes, more delicious than ordinary white rice.

Eco Warriors also made a rice dish called penek. Penek is a symbol of inner strength or steadfastness in glorifying God, made of rice, shaped into a ball and then slightly flattened. The activity of making penek was designed to foster the students’ love in preserving Balinese culture.

Another small group of Eco Warriors made lontong. The shape of this dish is very distinctive, rice is wrapped in banana leaves to form a cylindrical shape. For the students, shaping rice into a cylinder has its own challenges. They failed several times, but they never gave up and learned to improve the shape of this rice cake. This is in line with the learning principle at Begawan Foundation Learning Centre, Learning by Doing – Eco Warriors learn while living!

Pejuang Lingkungan Mengolah Beras Menjadi Berbagai Bentuk

Oleh Ketut Desy

‘Belum makan kalau belum makan nasi’ adalah ungkapan yang sangat melekat dengan penduduk Indonesia. Di Indonesia produksi beras sangatlah melimpah, sehingga berbagai makanan olahan beras sangat mudah ditemui. Beras hingga saat ini dijadikan sebagai makanan pokok yang dikonsumsi untuk asupan karbohidrat sehari-hari.

Dalam tema Cooking Science, Pejuang Lingkungan belajar untuk mengolah beras menjadi berbagai macam bentuk dan variasi makanan. Selain mengolah berasnya, mereka juga mencari informasi di internet tentang sejarah, makna dan penggunaannya, serta mencari tahu langkah-langkah pembuatnya. Dengan ini, pembelajaran mereka sangat komprehensif.

Di bawah pohon durian yang rindang, satu kelompok kecil Pejuang Lingkungan mengolah beras menjadi tumpeng kuning. Tumpeng kuning berbentuk kerucut yang diberi warna dengan pewarna alami kuning dari kunyit. “Bentuk kerucut nasi tumpeng ini melambangkan rasa terima kasih kepada Tuhan dan warna kuning merupakan simbol warna emas, yang melambangkan kemakmuran. Tumpeng kuning sering digunakan untuk berbagai perayaan seperti hari ulang tahun, hari pernikahan, syukuran acara- acara gembira, dan lainnya” jelas seorang anak yang bertugas mencari informasi tentang tumpeng kuning di tabletnya.

Di sudut ruangan Pusat Belajar Yayasan Begawan, kelompok kecil Pejuang Lingkungan terlihat saling bekerja sama menghaluskan berbagai bumbu dan rempah khas Indonesia. Mereka membuat Nasi Liwet dan Nasi Uduk, makanan olahan beras yang terkenal dari Pulau Jawa. Aroma dari makanan ini sangat menggugah selera dan seketika dapat membuat perut merasa lapar. Rasa gurih adalah andalan dari kedua nasi ini dibandingkan dengan nasi putih biasa. Lauk pauk yang dimakan dengan Nasi Liwet dan Nasi Uduk akan terasa semakin lezat.

Pejuang Lingkungan juga membuat olahan beras bernama Penek. Penek merupakan salah satu sarana dalam upacara keagamaan dan tradisi budaya di Bali. Penek lambang dari keteguhan atau kekokohan batin dalam mengagungkan Tuhan. Penek terbuat dari nasi yang dibentuk menyerupai bundar sedikit pipih. Kegiatan membuat Penek diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan Pejuang Lingkungan pada pelestarian budaya Bali.

Kelompok kecil Pejuang Lingkungan lainnya membuat olahan beras bernama lontong. Bentuk masakan ini sangat khas, berbentuk silinder seperti pipa yang dibungkus dengan daun pisang. Bagi Pejuang Lingkungan, membentuk nasi menjadi seperti tabung memiliki tantangan tersendiri, beberapa kali nampak gagal membentuk silinder, namun Pejuang Lingkungan pantang menyerah dan belajar kembali memperbaiki bentuk lontong sehingga menjadi lebih sempurna.

Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran di Pusat Belajar Yayasan Begawan yaitu “Learning by Doing”, Pejuang Lingkungan belajar sambil menjalaninya.

× Welcome to Begawan. How may we assist you?