Drag

By: Sintia Dewi

Bali has a long-established agricultural history, with a web of stunning rice terraces part of its historical significance. Apart from providing a livelihood for many Balinese, rice farming is also strongly linked to Bali’s social, cultural, and religious way of life. In the context of rice cultivation in Bali, Subak is a vital concept, with the term Subak having more than one meaning. The most well known is as a traditional water irrigation system for rice fields and terraces.

The physical structure of Subak irrigation starts from the main source of water on higher ground in the mountains. Flowing through weirs, dams and canals constructed to direct water, water spills into rice terraces and fields, then to the nearest river and down to the ocean. 

Due to the extensive and excessive use of agrochemicals in rice farming, the Subak water carries the excess of those chemical inputs downstream to other rice terraces and fields, and ultimately into the ocean, contaminating the water, destroying offshore corals, and disrupting the ecosystem. Steven Lansing, an American anthropologist, has studied this since 1985. 

Prior to commencing a rice farming project, Begawan, along with the local farmers, committed to implementing a more regenerative approach to rice farming, treating the chemically contaminated water used in irrigation. Before starting a new rice cycle early this year, Begawan installed a subsurface water filter for the Subak water that enters our rice fields using Akar Wangi. Akar Wangi, globally known as Vetiver (Vetiveria zizanioides), is a perennial bunchgrass of the Poaceae family, native to tropical Asia. With its capacity for fast growth, wide adaptability, and strong resistance, extensive research has acknowledged its “super absorbent” characteristics suitable for restoring polluted water. Therefore, many people use it for water conservation. In addition to Vetiver, we also planted Water Hyacinth (Pontederia crassipes), a floating perennial used worldwide in aquatic systems for wastewater purification. Water Hyacinth is very efficient in removing a vast range of pollutants, including heavy metals.

Filter Air untuk Irigasi Subak

Oleh: Sintia Dewi

Bali memiliki sejarah pertanian yang sudah lama ada, dengan terasering padi yang menakjubkan sebagai bagian dari sejarahnya. Selain menyediakan mata pencaharian bagi banyak orang Bali, pertanian padi juga sangat berkaitan dengan cara hidup sosial, budaya, dan agama Bali. Dalam konteks budidaya padi di Bali, subak merupakan konsep yang sangat penting, dengan istilah subak memiliki lebih dari satu arti. Yang paling terkenal adalah sebagai sistem irigasi air tradisional untuk sawah dan terasering.

Struktur fisik irigasi subak dimulai dari sumber utama air di dataran tinggi di pegunungan. Mengalir melalui bendung, bendungan, dan kanal yang dibangun untuk mengarahkan air, air mengalir ke sawah dan ladang, kemudian ke sungai terdekat dan turun ke laut.

Karena penggunaan agrokimia yang luas dan berlebihan dalam pertanian padi, air subak memuat kelebihan input kimia tersebut ke hilir ke sawah dan ladang, dan akhirnya ke laut, mencemari air, menghancurkan karang lepas pantai, dan mengganggu ekosistem. Steven Lansing, seorang antropolog Amerika, telah mempelajari ini sejak 1985.

Sebelum memulai proyek pertanian padi, Begawan, bersama dengan petani setempat, berkomitmen untuk menerapkan pendekatan yang lebih regeneratif untuk pertanian padi, dengan mengolah air yang terkontaminasi bahan kimia yang digunakan untuk irigasi. Sebelum memulai siklus padi baru awal tahun ini, Begawan memasang filter air untuk air subak yang masuk ke sawah kami menggunakan Akar Wangi. Akar Wangi, secara global dikenal sebagai Vetiver (Vetiveria zizanioides), adalah tanaman yang bertahan di banyak musim dari keluarga Poaceae, asli Asia tropis. Dengan kapasitasnya untuk tumbuh dengan cepat, kemampuan beradaptasi yang luas, dan ketahanan yang kuat, penelitian ekstensif telah mengakui karakteristik “penyerap super” dari tanaman ini yang cocok untuk memulihkan air yang tercemar. Oleh karena itu, banyak orang yang memanfaatkannya untuk konservasi air. Selain Vetiver, kami juga menanam Eceng Gondok (Pontederia crassipes), tanaman terapung yang digunakan di seluruh dunia untuk pemurnian air limbah. Eceng gondok sangat efisien dalam menghilangkan berbagai macam polutan, termasuk logam berat.

× Welcome to Begawan. How may we assist you?