Drag

By: Ircham Maulana 

Children are members of families and local communities, and the languages they learn within these contexts contribute to their sense of belonging, being, and becoming to their distinctive sociocultural identities. Encouraging children to be aware of and excel in their own distinctive native languages cultivates an appreciation and understanding of the history, linguistics, and cultural heritage of their ancestors. It allows them to meaningfully connect with one another and establish a sense of self and who they are. Therefore, even though acquiring a second, an additional, and foreign language is wonderful, it should not happen at the expense of the loss of one’s native language.

Since 25 March 2022, as a part of proficiency classes, Begawan Learning Centre has scheduled twice-monthly Balinese Literature lessons. Begawan invited Wayan Armini, a facilitator of Balinese language from the Indonesian Ministry of Youth and Sport in Melinggih Kelod village, to teach the Balinese linguistic and cultural heritage to Eco Warriors. As the start of the first lesson, the Eco Warriors learned about the traditional Balinese script.

The traditional Balinese script, known as Aksara Bali or Hanacaraka, is a valuable cultural attribute of Balinese society. It is commonly found in ancient manuscripts and literature. It belongs to a class of alphabets known as Abugida, where the consonant-vowel sequences are written as units.

As the Eco Warriors’ knowledge in Aksara Bali is diverse, they used different learning activities during the lesson. Those who are in 2nd and 3rd grade of elementary school practised writing the Aksara Bali. Meanwhile, the 4th and 5th graders changed sentences written in Latin Alphabets into Aksara Bali and vice versa. While writing this Balinese traditional script is quite challenging for students, they are very keen and enthusiastic to actively participate in the learning activities.

In between the learning activities, the Eco Warriors were also given opportunities to ask questions of the facilitator related to Balinese culture. As a result, the facilitator received a lot of questions related to the unique Balinese cultural values, artefacts and events.  Gek Sinta, for example, was curious about a Balinese traditional music genre called Pupuh Ginada, asking why every traditional singer sings the music genre differently.

We hope that the Eco Warriors will be interested to preserve this unique Balinese literature, aligning with Begawan’s Cultural Heritage Program, now in development. Please visit our page at https://begawan.life/cultural-heritage for more information.

Pelajaran Sastra Bali di Pusat Belajar Begawan

Oleh: Ircham Maulana

Anak-anak adalah anggota keluarga dan komunitas lokal, dan bahasa yang mereka pelajari dalam konteks ini berkontribusi pada rasa memiliki, keberadaan, dan identitas sosial budaya mereka yang khas. Mendorong anak-anak untuk sadar dan unggul dalam bahasa asli mereka sendiri yang khas memupuk apresiasi dan pemahaman tentang sejarah, linguistik, dan warisan budaya nenek moyang mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk terhubung secara bermakna satu sama lain dan membangun rasa diri dan siapa mereka. Oleh karena itu, meskipun memperoleh bahasa kedua, tambahan, dan bahasa asing itu indah, jangan mengorbankan hilangnya bahasa ibu.

Sejak 25 Maret 2022, sebagai bagian dari kelas profisiensi, Pusat Belajar Begawan telah menjadwalkan pelajaran Sastra Bali dua kali sebulan. Begawan mengundang Wayan Armini, fasilitator bahasa Bali dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI di Desa Melinggih Kelod, untuk mengajarkan warisan budaya dan bahasa Bali kepada Pejuang Lingkungan. Sebagai awal dari pelajaran pertama, mereka belajar tentang aksara tradisional Bali.

Aksara tradisional Bali, yang dikenal dengan Aksara Bali atau Hanacaraka, merupakan atribut budaya yang berharga dari masyarakat Bali. Hal ini umumnya ditemukan dalam manuskrip kuno dan sastra. Itu milik kelas abjad yang dikenal sebagai Abugida, di mana urutan konsonan-vokal ditulis sebagai unit.

Karena pengetahuan para Pejuang Lingkungan di Aksara Bali beragam, mereka menggunakan kegiatan belajar yang berbeda selama pelajaran. Mereka yang duduk di bangku kelas 2 dan 3 SD berlatih menulis Aksara Bali. Sementara itu, siswa kelas 4 dan 5 mengubah kalimat yang ditulis dalam Abjad Latin menjadi Aksara Bali dan sebaliknya. Walaupun menulis aksara tradisional Bali ini cukup menantang bagi siswa, mereka sangat antusias dan antusias untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Di sela-sela kegiatan pembelajaran, para Pejuang Lingkungan juga diberikan kesempatan untuk bertanya kepada fasilitator terkait budaya Bali. Alhasil, fasilitator mendapat banyak pertanyaan terkait nilai, artefak, dan peristiwa budaya Bali yang unik. Gek Sinta, misalnya, penasaran dengan genre musik tradisional Bali yang bernama Pupuh Ginada, menanyakan mengapa setiap penyanyi tradisional menyanyikan genre musik tersebut secara berbeda.

Kami berharap para Pejuang Lingkungan tertarik untuk melestarikan sastra Bali yang unik ini, sejalan dengan Program Warisan Budaya Begawan yang sedang dikembangkan. Silakan kunjungi halaman kami di https://begawan.life/cultural-heritage untuk informasi lebih lanjut.

× Welcome to Begawan. How may we assist you?