Drag

By: Ketut Desy 

An ogoh-ogoh is a typical Balinese statue that is usually paraded on the night before Nyepi, the “Day of Silence” and the Balinese New Year. These symbolise a person’s evil qualities and they are usually frightening giants in various forms. The philosophy behind these figures is to encourage people to reflect on bad qualities and eliminate them before the Balinese New Year arrives, so that during Nyepi, humans can start a new, better life.

Mid-April 2022, the Eco Warriors made four ogoh-ogoh, working in groups at the Learning Centre. In line with Begawan’s principle of raising students’ awareness of the environment, the statues were made with environmentally friendly materials. The frame is made of bamboo, wrapped with waste paper, paper adhesive and clay, and the decorations are made from used cloth. These ogoh-ogoh will be exhibited at the end of the theme festival in May.

Through such activities, students’ creativity is developed. They learn to think about the concept of ogoh-ogoh decoration, combine colours, form sculptures to make them look more real, arrange flowers, and assemble frames. These statues were not easy to make, several times they encountered obstacles, including difficulties in positioning the ogoh-ogoh so that they would stand up straight, and being able to maximise the limited materials available for the construction. However, they worked to find creative solutions for these challenges.

The ogoh-ogoh that the Eco Warriors made represent a variety of forms of humans living side by side with butterflies and bees, instead of the usual frightening giants. With these statues, the students invite people to reflect on how humans relate to bees and butterflies today. Does our attitude to such insects make the bees and butterflies live without fear of extinction?

In fact, the number of bees and butterflies in the world today is decreasing, although they play an important role in helping to pollinate plants. Without us realising it, there is much human behaviour that can damage the natural habitat and food sources of bees and butterflies, including the use of chemical pesticides for plants and the climate change that is occurring worldwide due to a variety of human activities.

Given the importance of this issue as a topic of environmental conservation, the Eco Warriors are very excited to campaign for bees and butterflies’ conservation at the upcoming festival. Thank you, Eco Warriors, for being good friends to bees and butterflies.

Pejuang Lingkungan Melestarikan Lebah dan Kupu-Kupu Melalui Miniatur Ogoh-Ogoh

Oleh: Ketut Desy

Ogoh-ogoh adalah patung khas Bali yang biasanya diarak pada malam sebelum Nyepi, Tahun Baru Bali. Ini melambangkan kualitas jahat seseorang dan mereka biasanya raksasa menakutkan dalam berbagai bentuk. Filosofi di balik tokoh-tokoh ini adalah untuk mendorong orang untuk merenungkan sifat-sifat buruk dan menghilangkannya sebelum Tahun Baru Bali tiba, sehingga pada saat Nyepi, manusia dapat memulai kehidupan baru yang lebih baik.

Pertengahan April 2022, Pejuang Lingkungan membuat empat ogoh-ogoh, bekerja dalam kelompok di Pusat Belajar. Sejalan dengan prinsip Begawan dalam meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan, patung-patung tersebut dibuat dengan bahan yang ramah lingkungan. Rangkanya terbuat dari bambu, dibungkus dengan kertas bekas, perekat kertas dan tanah liat, serta hiasannya dari kain bekas. Ogoh-ogoh ini akan dipamerkan di akhir festival tema di bulan Mei.

Melalui kegiatan tersebut, kreativitas siswa dikembangkan. Mereka belajar memikirkan konsep dekorasi ogoh-ogoh, memadukan warna, membentuk pahatan agar terlihat lebih nyata, merangkai bunga, dan merangkai bingkai. Patung-patung ini tidak mudah dibuat, beberapa kali menemui kendala, antara lain kesulitan dalam memposisikan ogoh-ogoh agar dapat berdiri tegak, dan mampu memaksimalkan keterbatasan bahan yang tersedia untuk pembangunannya. Namun, mereka bekerja untuk menemukan solusi kreatif untuk tantangan ini.

Ogoh-ogoh yang dibuat Pejuang Lingkungan mewakili berbagai bentuk manusia yang hidup berdampingan dengan kupu-kupu dan lebah, bukan raksasa menakutkan biasa. Dengan patung-patung tersebut, para siswa mengajak masyarakat untuk merenungkan bagaimana manusia berhubungan dengan lebah dan kupu-kupu saat ini. Apakah sikap kita terhadap serangga seperti itu membuat lebah dan kupu-kupu hidup tanpa takut punah?

Faktanya, jumlah lebah dan kupu-kupu di dunia saat ini semakin berkurang, meskipun berperan penting dalam membantu penyerbukan tanaman. Tanpa kita sadari, banyak sekali perilaku manusia yang dapat merusak habitat alami dan sumber makanan lebah dan kupu-kupu, termasuk penggunaan pestisida kimia untuk tanaman dan perubahan iklim yang terjadi di seluruh dunia akibat berbagai aktivitas manusia.

Mengingat pentingnya isu ini sebagai topik pelestarian lingkungan, para Pejuang Lingkungan sangat bersemangat untuk mengkampanyekan konservasi lebah dan kupu-kupu di festival mendatang. Terima kasih, Pejuang Lingkungan, karena telah menjadi teman baik bagi lebah dan kupu-kupu.

× Welcome to Begawan. How may we assist you?