Drag

By: Ircham Maulana

It has always been Begawan’s objective to instil and cultivate entrepreneurial mindsets to students as early as possible. Thus, various programs at Begawan’s Learning Centre, such as mushroom farming and cricket raising, are organised to provide the students with hands-on entrepreneurial experiences and skills. Through these programs, Begawan hopes that the students can be agents of change that will break the cycle of poverty and open up numerous opportunities for future local employment.

Several weeks ago, six Eco Warriors established “Pondok Jamur Begawan”, a project that focuses on farming and the sale of white oyster mushrooms: a type of edible fungi that has been widely consumed by people around the world, particularly in China, Korea, and Japan. This popular mushroom, whose name comes from its oyster-shaped caps, is processed into a variety of tasty items such as mushroom nuggets, crispy mushroom snacks, and stir fry mushrooms. In nature, this type of mushroom grows on logs and standing dead trees in the world’s subtropical and temperate forest.

The six Begawan students, Rizka, Angga, Made, Saktu, Sangtu, and Teguh, have been working together to cultivate the oyster mushrooms in a Kumbung (a mushroom growing house) located next to the Learning Centre. They take care of 150 bag logs (oyster mushrooms’ planting media made from a mixture of sawdust, rice gran, and lime) that need a certain level of temperature and humidity to grow. On a daily basis, they check the temperature and humidity of the Kumbung using a temperature and humidity metre, observe the growth of mycelium in the bag logs, and keep pests away from the bag logs. While doing so, they also work collaboratively to look for and gather every single bit of information they can find on mushroom farming including its planting media, sterilisation process, incubation process, inoculation process, growth steps and periods, challenges, and financial profits.

As a small business model, the students have also divided their roles in the business to include a director, secretary, treasurer, marketing staff, and farmers. Collectively, they will sell their mushrooms to potential buyers around the Payangan subdistrict. Good luck, Eco Warriors!

Rumah Budidaya Jamur Begawan

Oleh: Ircham Maulana

Sudah menjadi tujuan Begawan untuk menanamkan dan menumbuhkan pola pikir kewirausahaan kepada siswa sedini mungkin. Oleh karena itu, berbagai program di Pusat Belajar Begawan, seperti budidaya jamur dan budidaya jangkrik, diselenggarakan untuk membekali para siswa dengan pengalaman dan keterampilan kewirausahaan secara langsung. Melalui program-program tersebut, Begawan berharap mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang memutus mata rantai kemiskinan dan membuka banyak peluang kerja lokal di masa depan.

Beberapa minggu yang lalu, enam Pejuang Lingkungan mendirikan “Pondok Jamur Begawan”, sebuah proyek yang berfokus pada pertanian dan penjualan jamur tiram putih: sejenis jamur yang dapat dimakan yang telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia, khususnya di China, Korea, dan Jepang. Jamur populer yang namanya berasal dari tutupnya yang berbentuk tiram ini diolah menjadi berbagai makanan lezat seperti nugget jamur, snack jamur crispy, dan tumis jamur. Di alam, jenis jamur ini tumbuh pada batang kayu dan pohon mati yang berdiri di hutan subtropis dan beriklim sedang di dunia.

Keenam siswa Begawan, antara lain Rizka, Angga, Made, Saktu, Sangtu, dan Teguh, telah bekerja sama untuk membudidayakan jamur tiram di sebuah Kumbung yang terletak di sebelah Learning Centre. Mereka merawat 150 bag log (media tanam jamur tiram yang terbuat dari campuran serbuk gergaji, beras, dan kapur) yang membutuhkan suhu dan kelembaban tertentu untuk tumbuh. Setiap hari mereka memeriksa suhu dan kelembaban kumbung menggunakan pengukur suhu dan kelembaban, mengamati pertumbuhan miselium di bag log, dan menjauhkan hama dari bag log. Sambil melakukan itu, mereka juga bekerja sama untuk mencari dan mengumpulkan setiap informasi yang mereka temukan tentang budidaya jamur termasuk media tanamnya, proses sterilisasi, proses inkubasi, proses inokulasi, langkah dan periode pertumbuhan, tantangan, dan keuntungan finansial.

Sebagai model usaha kecil, para siswa juga telah membagi peran mereka dalam bisnis yang meliputi direktur, sekretaris, bendahara, staf pemasaran, dan petani. Secara kolektif, jamur tersebut akan mereka jual kepada calon pembeli di sekitar Kecamatan Payangan. Semoga berhasil, Pejuang Lingkungan!

× Welcome to Begawan. How may we assist you?