Drag

By: Ikhsan 

From cultural parades to festivals and religious holidays, Bali always has a reason for celebration. On Thursday, 8 June 2022, the local community of Banjar Bayad, Melinggih Kelod Village assembled at Pura Dalem Jemeng, one of the local temples, to hold a religious ceremony to commemorate Galungan Day which occurs once every 210 days in the Balinese calendar. The men wore all-white shirts and layered cloths, named Kamen, a Balinese traditional garment, as the first layer and various colored Saput as the second layer while the women wore their Kebaya, the traditional women’s blouses and sarongs.

In the late afternoon, the ceremony began. The Pemangku, a Balinese priest, and the leader of the ceremony began the solemn prayers to wish for the victory of Dharma, representing kindness, against the evil Adharma. The local young generation then carried the  Barong, a panther-like creature, around the Banjar followed by those who had attended the ceremony. According to the Balinese people, the Barong is a victory symbol of goodness aligned with prayer on Galungan Day. To conclude the ceremony, they returned to the temple for one more prayer.

Galungan is a special celebration, along with other celebrations in Bali such as Nyepi, Kuningan, Saraswati, and Pagerwesi. A day before Galungan Day, the people of Banjar Bayad held the Penampahan Galungan ceremony. Penampahan Galungan is believed to be the day of the descent of the most violent Sang Kala Tiga, named Sang Bhuta Amangkurat. Balinese people sacrifice pigs as a symbol of killing the animalistic lust in humans and the pork is also used for ceremonial purposes. The day after Galungan Day, the Umanis ceremony provided the closing of the series of Galungan Day ceremonies.

Upacara Galungan di Banjar Bayad

Oleh: Ikhsan

Dari parade budaya hingga festival dan hari raya keagamaan, Bali selalu memiliki kegiatan untuk dirayakan. Pada hari Kamis, 8 Juni 2022, masyarakat Banjar Bayad, Desa Melinggih Kelod berkumpul di Pura Dalem Jemeng, salah satu pura setempat, untuk mengadakan upacara keagamaan dalam rangka memperingati Hari Raya Galungan yang terjadi setiap 210 hari sekali dalam penanggalan Bali. Laki-laki mengenakan baju serba putih dan kain berlapis yang diberi nama Kamen, pakaian adat Bali, sebagai lapis pertama dan Saput, kain aneka warna sebagai lapis kedua, sedangkan perempuan mengenakan Kebaya, blus tradisional perempuan, dan kain.

Menjelang sore, upacara dimulai. Pemangku, seorang pendeta Bali, dan pemimpin upacara memulai doa khusyuk untuk mengharapkan kemenangan Dharma, mewakili kebaikan, melawan kejahatan Adharma. Generasi muda lokal kemudian mengusung  Barong, kostum makhluk mirip macan kumbang, mengelilingi Banjar diikuti oleh mereka yang menghadiri upacara tersebut. Menurut masyarakat Bali, Barong adalah simbol kemenangan kebaikan yang diselaraskan dengan doa pada Hari Raya Galungan. Untuk mengakhiri upacara, mereka kembali ke pura untuk satu doa lagi.

Galungan merupakan perayaan khusus, bersama dengan perayaan lainnya di Bali seperti Nyepi, Kuningan, Saraswati, dan Pagerwesi. Sehari sebelum Hari Raya Galungan, masyarakat Banjar Bayad mengadakan upacara Penampahan Galungan. Penampahan Galungan diyakini sebagai hari turunnya Sang Kala Tiga yang paling ganas, bernama Sang Bhuta Amangkurat. Orang Bali mengorbankan babi sebagai simbol membunuh nafsu kebinatangan pada manusia dan babi juga digunakan untuk keperluan upacara. Sehari setelah Hari Raya Galungan, upacara Umanis menjadi penutup dari rangkaian upacara Hari Raya Galungan.

× Welcome to Begawan. How may we assist you?