Drag

Dengan raut wajah ekspresi jijik, para siswa di Pusat Belajar Begawan terkejut saat mengetahui mereka akan mencoba sesuatu yang cukup tidak biasa – makan serangga! Meskipun awalnya ragu-ragu, mereka mengambil napas dalam-dalam dan dengan berani mencobanya. Beberapa merasa lega karena menemukan rasa tidak seburuk yang mereka bayangkan, sementara yang lain terkejut dengan cita rasa yang sepenuhnya baru bagi mereka. Banyak dari mereka berteriak dengan semangat, “Enak! Saya ingin lebih banyak!”

Menjelajahi Dunia Serangga yang Bisa Dimakan

Pengalaman ini terjadi pada tanggal 10 Juli 2023, saat diskusi tentang serangga dan peran mereka dalam lingkungan sebagai bagian dari pelajaran tematik Animal Tales. Kelas menjadi terpikat ketika para siswa mendapat kesempatan langsung untuk mencicipi hidangan tradisional Bali seperti lawar nyawan dan sup nyawan (larva lebah), belalang goreng, dan belalang daun goreng.

Facilitator cooked lawar nyawan for students to taste
Fasilitator memasak lawar nyawan untuk siswa-siswi rasakan.

Manfaat Lingkungan dan Keberlanjutan dari Entomofagi

Praktik mengonsumsi serangga, yang juga dikenal sebagai entomofagi, telah lama dilakukan oleh nenek moyang kita dalam budaya Timur. Namun, saat ini, orang lebih cenderung memilih daging seperti ayam, babi, dan sapi. Meskipun demikian, serangga yang bisa dimakan menawarkan banyak manfaat. Begawan mendorong generasi muda untuk merangkul entomofagi karena serangga merupakan alternatif makanan yang sehat dan bergizi dibandingkan bahan makanan umum. Mereka kaya akan protein, lemak sehat, dan mineral penting seperti kalsium, zat besi, dan seng.

A meal  of crickets, grasshoppers and bee larvae
Masakan dari jangkrik, belalang dan pupa lebah.

Selain nilai gizi mereka, merangkul entomofagi menawarkan berbagai dampak positif bagi lingkungan. Serangga mengeluarkan lebih sedikit gas rumah kaca dibandingkan dengan hewan ternak tradisional. Selain itu, pemeliharaan serangga tidak memerlukan ekspansi lahan yang luas atau deforestasi. Serangga dapat diberi makan dengan efisien menggunakan limbah organik atau sisa-sisa dari berbagai industri. Proses panen dan pemeliharaan serangga bersifat rendah teknologi dan modal, dan mereka berkembang biak dengan cepat dan dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Karakteristik ini membuat entomofagi menjadi praktik berkelanjutan dan juga berkontribusi pada ekonomi sirkular dengan mengubah materi organik bernilai rendah menjadi protein bernilai tinggi.

Kreativitas dan Warisan Budaya: Membuat Belalang dari Daun Kelapa

Melanjutkan eksplorasi mereka, para siswa di Pusat Belajar Begawan terlibat dalam kegiatan kreatif membuat belalang dari daun kelapa. Mereka belajar tentang bagian-bagian berbeda dari belalang, seperti perut, thoraks, kepala, sayap, antena, dan kaki. Dalam budaya Bali, daun kelapa penting dan digunakan dalam upacara keagamaan dan praktik budaya. Kegiatan ini memungkinkan siswa untuk menunjukkan keterampilan artistik mereka dan terhubung dengan warisan budaya mereka saat mereka melihat bagaimana daun sederhana bisa diubah menjadi belalang yang indah.

Students showcased their handmade leaf grasshoppers
Siswa menunjukkan karya mereka yang berupa belalang dari daun.

Di Pusat Belajar Begawan, eksplorasi tentang serangga lebih dari sekadar pelajaran—ini adalah pengalaman yang membuka mata, memperluas rasa, dan memupuk pemahaman yang lebih dalam tentang lingkungan kita.

× Welcome to Begawan. How may we assist you?