Drag

Pada akhir Juni, terdapat beberapa acara yang fokus pada produksi makanan berkelanjutan dan organik. Minat Begawan pada acara-acara ini berhubungan dengan inisiatif mereka dalam bidang pertanian, khususnya pertanian padi. Pertanian padi erat terkait dengan kehidupan sosial, budaya, dan agama Bali. Begawan mengikuti pendekatan pertanian regeneratif dengan fokus pada peningkatan kualitas tanah.

Retrospeksi Pertanian di Indonesia

Melihat ke belakang pada tahun 1970-an, ketika revolusi hijau melanda Indonesia, termasuk Bali, penggunaan berbagai bahan kimia menyebabkan peningkatan signifikan dalam produksi dan pendapatan padi. Namun, situasi yang tampak positif ini tidak berlangsung lama. Masalah mulai muncul, dan pada tahun 1985, seorang antropolog Amerika bernama Steven Lansing menemukan bahwa residu agrokimia yang mencemari sungai dan akhirnya mencapai laut merusak terumbu karang di lepas pantai.

Selain dampak lingkungan, ini juga berdampak pada aspek budaya. Bali, yang dulunya memiliki ratusan varietas padi warisan, kini hanya tersisa beberapa. Seiring memburuknya dampak lingkungan, penggunaan agrokimia mulai berdampak negatif pada kesehatan para petani. Pingsan dan masalah sinus setelah penyemprotan menjadi umum di antara mereka. Beberapa komponen insektisida yang digunakan sebelumnya bahkan digunakan selama Holocaust dalam Perang Dunia II. Kita telah merusak lingkungan, secara perlahan merusak kesehatan para petani, dan berpotensi merugikan diri kita sendiri karena residu dari bahan kimia ini dapat bertahan bahkan setelah penggilingan.

Penurunan Industri Perhotelan Selama Pandemi Berdampak pada Permintaan Beras

Situasi semakin memburuk ketika pandemi COVID-19 melanda. Berkurangnya permintaan beras dari restoran dan hotel akibat penurunan pariwisata berdampak langsung pada para petani di Bali. Dengan pendapatan yang berkurang, godaan untuk menjual lahan pertanian menjadi lebih kuat.

Selain dampak ekonomi, ada juga kekhawatiran terkait kesehatan. Setelah bertahun-tahun penggunaan agrokimia, residu yang terakumulasi telah merusak kualitas tanah, menyebabkan penurunan produktivitas padi. Diperkirakan ratusan hektar lahan pertanian hilang setiap tahun.

Inisiatif Begawan: Kolaborasi dengan Petani Lokal

Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, Begawan telah bergabung dengan petani lokal di desa Melinggih Kelod, tempat Pusat Pengembangbiakan & Pelepasliaran Jalak Bali kami berlokasi, untuk menerapkan praktik pertanian berkelanjutan melalui kemitraan bisnis. Dalam pendekatan “belajar melalui praktik” dalam pertanian berkelanjutan, kami memberikan jaring pengaman untuk memastikan kesejahteraan ekonomi petani. Kami menyediakan pelatihan, pengawasan, berbagai input untuk siklus padi, dan bersama-sama dengan para petani mengembangkan prosedur operasional standar mulai dari produksi benih hingga penggilingan, serta pengaturan pembagian keuntungan. Hal ini menciptakan lebih banyak insentif bagi petani untuk bekerja di lahan padi mereka. Begawan juga telah menjalin hubungan pasar dengan menghubungkan produk-produk lokal ini dengan industri perhotelan di Bali.

Panen yang Baik Datang dari Tanah yang Subur

Untuk memulai perjalanan ini, kami harus mengembalikan kualitas tanah setelah beberapa dekade penggunaan bahan kimia yang berlebihan yang mengganggu sistem tanah dan lingkungan. Pertanian regeneratif menjadi pendekatan kami untuk mengembalikan kesehatan optimal tanah. Langkah pertama melibatkan pemberian kompos untuk meningkatkan kualitas tanah. Sebelum memulai setiap siklus padi baru, kami mengambil tindakan signifikan dalam regenerasi tanah dengan menambahkan kompos matang dan berbagai pupuk alami untuk meningkatkan mikroba baik sebelum dan selama siklus padi. Langkah-langkah pemulihan tanah ini dilaksanakan secara teratur dan strategis oleh para petani kami.

Kami mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang aktif mendukung program kami. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut tentang kegiatan pertanian regeneratif kami.

× Welcome to Begawan. How may we assist you?