Drag

Budidaya padi telah lama menjadi bagian penting dari pertanian di Asia, tetapi hal ini datang dengan biaya lingkungan yang signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa sawah bertanggung jawab atas 11% emisi metana di dunia. Terdapat lebih dari 200 juta lahan pertanian di Asia. Hasil dari studi oleh ilmuwan I Wayan Alit Artha Wiguna dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali dan Steve Lansing dari Santa Fe Institute menunjukkan bahwa metode irigasi intermiten dapat mengurangi output gas rumah kaca (GRK) dari ladang padi hingga 70%.

Menantang Tradisi: Memikir Ulang Irigasi Sawah Padi

Di Begawan, kami memimpin pendekatan transformasional dalam budidaya padi untuk mengatasi masalah ini. Secara tradisional, sawah padi telah digenangi untuk menekan pertumbuhan gulma, tetapi melalui penelitian yang luas, ditemukan bahwa padi bukan tanaman yang membutuhkan banyak air, dan genangan tidak diperlukan untuk hasil yang optimal. Dengan menantang metode konvensional dan meminimalkan penggunaan air, kami bertujuan untuk mengurangi emisi gas metana yang terkait dengan budidaya padi. Dengan mengadopsi teknik inovatif, kami berkomitmen untuk mengurangi dampak lingkungan dari pertanian, meningkatkan hasil padi warisan, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Menghamparkan hampir 2 hektar lahan pertanian padi yang ditanami dengan Padi Warisan Mansur yang terkenal, pertanian padi Begawan menandakan langkah progresif menuju pertanian berkelanjutan dan regeneratif. Untuk memfasilitasi pengumpulan data yang teliti dan memastikan hasil yang akurat, meteran aliran air turbin telah diintegrasikan ke dalam sistem penyaringan air Subak. Pengaturan canggih ini memungkinkan pemantauan aliran air secara real-time, faktor yang penting dalam proyek budidaya padi warisan kami di mana kami bekerja sama dengan petani lokal di Bayad, Melinggih Kelod. Selain itu, eksperimen ini akan memperluas cakupannya untuk mengukur emisi metana dan nitrat oksida, yang merupakan gas rumah kaca (GRK) yang kuat berasal dari ladang padi. Kami akan menggunakan analisis gas Picarro mutakhir di bawah bimbingan Pak Alit dari Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Bali.

Mengurai Data: Keahlian Kolaboratif untuk Dampak

Meskipun dasarnya kuat, potensi sejati dari inisiatif ini terletak di tangan para ahli yang terampil dalam menguraikan dan menganalisis data rumit yang dihasilkan oleh analisis gas Picarro. Secara kolaboratif, upaya bersama para ahli seperti Steven Lansing, Pak Alit, tim Begawan, dan petani kami yang berdedikasi siap untuk mendefinisikan kembali paradigma budidaya padi. Kolaborasi ini menjanjikan untuk memberikan kedalaman pada inisiatif perintis ini. Tujuan yang lebih luas untuk mencapai hasil dan praktik budidaya yang lebih baik yang selaras dengan lingkungan menegaskan pentingnya eksperimen ini, bukan hanya untuk komunitas sekitar, tetapi sebagai pedoman untuk pertanian berkelanjutan di seluruh wilayah.

Begawan akan bekerjasama dengan Profesor Lansing, yang akan menjadi kontributor data utama dari ladang padi kami yang bebas dari pupuk sintetis dan bahan kimia pertanian. Kolaborasi ini menekankan komitmen pada upaya penelitian bersama yang dapat mengubah lanskap budidaya padi, mendorong masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

× Welcome to Begawan. How may we assist you?