Drag


Langkah awal Begawan adalah Program Konservasi Jalak Bali yang dimulai pada tahun 1999 dengan tujuan menyelamatkan burung yang terancam punah ini.

Jalak Bali atau yang dikenal juga sebagai Bali Myna, Bali Starling, dan Leucopsar rothschildi, menjadi maskot resmi provinsi Bali pada tahun 1991. Mereka dikenal dengan keindahannya serta sangat terancam punah. Jalak Bali memiliki bulu sayap putih yang terang dengan ujung hitam pada bulu sayap dan ekor, serta jambul panjang yang terkulai. Ciri yang paling menarik dari burung ini adalah keindahan kulit biru yang mengelilingi matanya. Burung ini indah dan ramah, mempercayai alam telah bekerja menentang mereka, menjadikan mereka tangkapan yang berharga untuk pemburu gelap. Permintaan setempat dan internasional menghasilkan penurunan secara signifikan terhadap populasinya.

Proyek

Begawan memulai program Konservasi Jalak Bali pada tahun 1999 ketika keluarga Gardner membeli dua pasang dari peternak yang berhasil di Inggris dan membawa “pulang” ke Begawan Giri Estate di Bali. Empat burung menjadi 97, dengan garis keturunan baru yang diperkenalkan oleh berbagai peternak di Bali.

Pencapaian
1999
24 Juni 1999
Projek Konservasi dimulai di Begawan Giri Estate dengan dua pasang burung yang diimpor dari Inggris untuk dirawat dengan tujuan membangun kandang pengembangbiakan. Yayasan mengambil pendekatan ahli untuk membiakkan dan melestarikan, dengan menyediakan fasilitas yang unggul untuk meningkatkan keberhasilan pada pengembangbiakan.
2005
Pada November 2005, populasi penangkaran meningkat dari sebanyak 4 burung hingga menjadi 97 burung. Beberapa pertukaran dilakukan untuk meningkatkan garis keturunan burung pembiakan.

Burung-burung dan kandangnya dipindahkan dari Begawan Giri Estate ke suaka burung yang baru didirikan di Nusa Penida, sebuah pulau kecil di tenggara daratan Bali.
2006
Juli 2006
25 burung yang telah dipasang microchip telah dilepasliarkan ke alam, pada sebuah upacara yang didatangi oleh masyarakat setempat dan pegawai pemerintah, diikuti oleh pemberian berkat oleh Mangku setempat, dimana memastikan burung-burung yang telah dilepasliar akan dipedulikan oleh dewa-dewa.

Desember 2006
12 burung lagi telah dilepasliar untuk bergabung dengan keturunan dari pelepasliaran yang pertama. Sebuah kawanan kecil telah tercipta!
2007
April 2007
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, and Istrinya Kristiani Herawati melepasliarkan 12 burung pada saat upacara untuk meresmikan layanan kapal feri antara Nusa Penida dan daratan utama Bali.

Agustus 2007
Nusa Penida telah diumumkan sesuai untuk pelepasliaran berdasarkan Menteri Kehutanan Indonesia M. S. Kaban dan Dr. Ir. Tonny Suhartono, Direktur Jendral Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem

Selama tahun 2006 dan 2007, sejumlah 65 burung telah dilepasliarkan dari kandang penangkaran Begawan. Semenjak pelepasaliaran pertama, pada tahun 2021, sekitar 180 burung terlihat dan dihitung di Nusa Penida dan Nusa Lembongan.
2010
Agustus 2010
Burung penangkaran yang tersisa dan kandangnya dipindahkan ke Sibang, sebuah desa didekat Ubud, dan sebuah kegiatan pengembangbiakkan baru telah diluncurkan.

Mereka tiba di Sibang dengan kawalan pegawai pemerintahan dari Nusa Penida.
 2011 
23 ekor Jalak Bali telah didonasikan ke program koservasi yayasan pada tahun 2011. Tiga burung telah didonasikan dari Jurong Bird Park, dan sebanyak 20 ekor dari anggota European Endangered Species Program. Kontribusi ini berarti akan ada garis genetik baru yang akan dikenalkan dari burung impor.
2012
November 2012
Begawan melepasliar empat pasang Jalak Bali di Green School, Bali dalam perayaan yang melibatkan para siswa, guru, dan pegawai pemerintahan. Dua pelajar muda, menggunakan masker mata Jalak Bali warna biru, dipilih sebagai bagian dari tim pelepasliaran resmi.

Kata-kata bijak datang dari Tamen Sitorus selaku kepala Badang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Denpasar, “Selain membiakkan, kami juga fokus untuk melestarikan habitat dan memberdayakan sekeliling komunitas setempat untuk meredam bahaya terhadap burung Jalak Bali.”
2014
Juni 2014
Dr. Jane Goodall, seorang ahli primata dan climate advocate yang terkenal, turut berpartisipasi dalam pelepasliaran dua Jalak Bali. Beliau berkata,”I am so very glad you are doing what you are doing – it is so important,” bergema ke dalam diri kita, dengan tujuan untuk membiakkan Jalak Bali dan melepasliarkan ke habitat alami.

Agustus 2014
Ban Ki Moon, Sekjen PBB dan istrinya, Madam Yoo (Ban) Soon , datang ke Bali, membuka UNAOC (United Nations Alliance of Civilizations). Mereka datang ke Pusat Pembiakan dan Pelepasan milik yayasan dan melepasliar dua Jalak Bali jantan, berharap mereka akan berpasangan dengan dua burung betina di alam liar.
2015
Begawan turut ambil bagian dalam sebuah multi-day international workshop on Bali Myna (Jalak Bali) yang diselenggarakan oleh Bali Safari & Marine Park, bersamaan dengan partisipan dan organisasi konservasi lain dari seluruh dunia.

April 2015
Begawan Foundation menerima penghargaan Tri Hita Karana Nugraha Award, yang diakui sebagai pelopor untuk menyelamatkan Jalak Bali yang hampir punah yang telah berlangsung selama lebih dari 16 tahun, dan memperlihatkan bahwa bukan tidak mungkin suatu organisasi swasta untuk membangun sebuah kegiatan yang memperkenalkan kembali.
2018
Mei 2018
Para pendiri, Debora dan Bradley T. Gardner, Ngakan Putu Riadi dari Divisi Pengembangbiakan di Kantor Pertanian Kabupaten Gianyar, Dewa Made Rupa dari the Bali Natural Resources Conservation Agency’s (BKSDA) Gianyar Conservation Head Zone II, and I Nyoman Suwardana, kepala desa Melinggih Kelod, resmi membuka Pusat Pengembangbiakan dan Pelepasliaran baru di Banjar Begawan, Melinggih Kelod.

Oktober 2018
20 burung telah dilepasliar oleh yayasan. Ada banyak sekali penampakan burung dari berbagai sumber. Satu pasang, dengan perilaku teritorialnya yang agresif, tetap berada di situs pembiakan dan memaksa pasangan lainnya untuk pergi. Pasangan ini, bagaimanapun, telah menghasilkan lebih dari 13 anak burung pada tahun 2021.
2021
April 2021
Sepasang induk burung dilepasliarkan di sebuah lingkungan keluarga di Begawan, dan menetap di sawah warga dekat Banjar Bayad. Burung jantan menghilang pada akhir bulan, kemungkinan besar dimakan oleh ular pemangsa, meninggalkan betina yang sedang bertelur. Burung betina dan anaknya yang lahir di alam liar dipindahkan ke Pusat Pengembangbiakan, dimana dia dipasangkan kembali dengan burung jantan baru dan dilepasliarkan kembali.

Juni 2021
Burung betina tunggal dan pasangan barunya dilepasliarkan kembali ke alam liar di Banjar Bayad, tempat mereka menetap sebelumnya. Saat ini, pasangan tersebut masih berada di ladang Banjar Bayad, kegiatannya dilaporkan oleh pemilik tanah kepada staf yayasan. Pasangan baru ini telah berkembang biak menjadi satu anak burung.

Pasangan selanjutnya dilepasliarkan di Begawan. Menjelang akhir bulan, pasangan ini telah menetap kembali di lokasi pelepasliaran awal mereka di Begawan. Setelah pejantan terbunuh dalam perkelahian dengan seekor ayam, pasangan baru disediakan untuk pejantan, dan pasangan ini telah menghasilkan satu anak burung hidup.

September 2021
Sepasang burung dilepasliarkan di Banjar Pengaji, Desa Melinggih Kelod, Payangan. Sayangnya, burung betina dari pasangan ini menghilang pada akhir September tidak lama setelah dilepasliarkan. Penjantan ditangkap kembali ke Pusat Pengembangbiakan.

November 2021
Begawan saat ini memiliki 14 burung muda kelahiran liar. Enam diantaranya siap untuk dilepasliarkan di Banjar Bayad sebagai kawanan pada tahun 2022. Staf memasang kandang portabel di lokasi pelepasliaran kawanan burung yang diusulkan untuk habituasi dan adaptasi pra-pelepasliaran.
2022
Diawal tahun, Basebali mengikuti Program Orang Tua asuh Jalak Bali Begawan di Desa Yehembang Kauh, Jembrana. Tiga puluh lima orang, dari pejabat pemerintah hingga kelompok masyarakat, menghadiri sesi tersebut dan menandatangi kesepakatan perlindungan burung di desa tersebut. Begawan melengkapi tim Basebali dengan pelatihan untuk program pelestarian Jalak Bali dan meminjamkan sepasang Jalak Bali dan kandang untuk menampung burung.

Setelah melepas enam ekor Jalak Bali muda sebagai kawanan pada April lalu di Banjar Bayad, tim Begawan melakukan pemantauan secara rutin. Pada bulan Juli, pasangan lain dilepasliarkan di Banjar Begawan sebelum menetap di kotak sarang terdekat kami yang kami pasang di sawah.

Hingga September, kami telah memasang lima kandang habituasi di Banjar Tebekauh dan Banjar Bayad untuk persiapan pelepasliaran berikutnya. Awal November allu, Begawan melepas sepasang Jalak Bali dari kandang habituasi di kompleks Kelian Tebekauh. Pelepasan ini disusul dengan pelepasan empat burung Jalak Bali muda di Banjar Bayad beberapa hari kemudian.

Tanggal 25 November 2022 akan diingat sebagai hari yang bersejarah bagi Begawan dalam upayanya untuk melindungi Jalak Bali dengan melepaskan sepasang burung terancam punah ini ke alam liar di area yang kami sebut Top Corner, Br. Bayad. Dengan pelepasan dua Bali Starling ini, Begawan telah mencapai tonggak sejarah yang signifikan, setelah melepaskan 20 burung terancam punah ini pada tahun 2022.
2023
Begawan memulai tahun 2023 dengan melepaskan sepasang Jalak Bali ke kebun Pak Dogy, yang keluarganya tinggal di kompleks setempat di Begawan, pada tanggal 16 Maret. Kami bangga mengambil langkah penting ini untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka dan melanjutkan karya Begawan dalam melindungi dan meningkatkan jumlah Jalak Bali di alam liar.

Setelah melepaskan sepasang Jalak Bali pada tanggal 16 Maret 2023, di dalam lingkungan rumah keluarga, kami memulai perjalanan konservasi yang komprehensif. Ini melibatkan pengamatan burung, persiapan lokasi untuk pelepasan, aktivitas adaptasi, pemantauan yang cermat, dan pada akhirnya, pada tanggal 21 September 2023, Begawan berhasil melepasliarkan sepasang Jalak Bali baru ke alam liar di Banjar Paneca, di utara Ubud.

Proses yang panjang ini penting untuk memastikan transisi yang sukses bagi burung-burung tersebut ke alam liar. Pendekatan yang teliti ini memungkinkan kami untuk mengamati dan memantau perilaku mereka, memfasilitasi penyesuaian mereka dengan lingkungan alamiah mereka, dan memastikan bahwa mereka benar-benar siap untuk hidup di alam liar.

Location

Follow us on Instagram

× Welcome to Begawan. How may we assist you?